fajar

fajar
...-

Sabtu, 24 September 2011

Potret kehidupan warga Jakarta

Potret kehidupan warga Jakarta

Mengais cacing di sawah untuk makan sehari-hari
SEMPER TIMUR (Pos Kota) - Meski hidup tetap miskin, rupanya Jakarta masih saja menjadi tumpuan bagi Rahmat. Sejak Subuh hingga Magrib, pria berusia 39 tahun ini keluar rumah mengais caciifg di sawah sebagai bekal makan sehari- hari bersama anak semata wayangnya.
Sehari dia bisa mengumpulkan antara 3 - 5 ons cacing susu seharga RplO ribu. Dari uang inilah ia belikan nasi Rp4 ribu/bungkus di warteg untuk makan berdua dengan anaknya, Rudi Firmansyah, 8. Sehari dua kali makan Rp8 ribu, sisanya Rp2 ribu untuk uang jajan anaknya.Rahmat bersama anaknya, Rudi Firmansyah tinggal di Kampung Sawah Blok E kel. Semper Timur Jakarta Utara. Rumah seluas 25 m2 berdinding kayu dengan lantai tanah, peninggalan Dasuki.orangtu-anya, jadi tempat Rahmat berteduh . Rumah ini lembab dan pengab, apalagi setelah hujan.
Tanah itupun bukanlah milik orangtuanya melainkan tanah milik pengusaha yang ditempati bersama puluhan orang susah lainnya. Sejak 1980, Rahmat mengikuti orangtuanya yang asli Tegal, tinggal di kawasan gudang TPK Koja.Tahun 1991 pindah" ke Kampung Sawah. Setelah lulus SMP tahun 1987, Rahmat bekerja serabutan termasuk menjadi pengumpul barang bekas, kerjaan bapaknya.
Dalam perjalanan hidupnya, ia menikah dengan Suratmi; tahun 2001. Namun, dua tahun silam, kesengsaraannya bertambah lagi karena istrinya pulang ke kampung halamannya di Tegal, tanpa cerai. Tinggallah Rahmat hidup dengan anaknya hingga kini.Dengan keteguhan hati yang gersang, Rahmat masih mencoba bertahan hidup dari mencari cacing susu. Cacing ia jual ke pengumpul untuk makan sehari-harinya. Pendapatannya bervariasi karena tergantung musim. Jika musim kering atau panas, sehari ia hanya mendapat 2-3 ons cacing susu. Bila musim hujan agak mendingan, bisa 3-5 ons per hari.
"Tapi, itu sangat jarang karena tergantung kesuburan tanah," ucap Rahmat, kemarin. Cacing susu ia jual pada seseorang yang dijual kembali ke toko burung atau pancingan untuk umpan pancingan. Harga cacing susu sekilo Rp25 ribu hingga Rp35 ribu karena tergantung musimnya. Tapipendapatan rata-rata sehari RplO ribu. "Setidaknya dua hari itu saya dapat Rp20 ribu." Dengan uang itulah Rahmat membeli nasi di warteg Rp4 ribu per bungkus untuk sekali makan bersama anaknya. Lauk pauknya tentu terbatas pada oreg tempe dan kuah sayur. "Ya nggak bisa lauk mahal, uang juga segitu. Uangnya jelas gak kebagi untuk makan malam," tuturnya.
ANAK TAK SEKOLAH
Kemiskinan tidak hanya membuat Rahmat ditinggal istrinya ke kampung, tapi anak semata wayangnya pun tak bisa disekolahkan. Itu juga yang mengakibatkan anaknya, Rudi, enggan bermain dengan teman-temannya di lingkungan sekitar. "Kalau bertemu orang anak saya malu. Ia sering menyendiri di dalam kamar," jelas Rahmat.
Setiap hari dari pagi hingga malam, Rahmat sibuk mencari cacing di tempat sampah ke Semper Timur, Kali Baru, Cakung Drain bahkan sampai ke Buaran. Jadi, tak bisa mengurus anaknya. "Kalau saya gak cari cacing, saya gak makan dong. Anak saya kan juga butuh makan," ucapnya, yang pergi mencari napkah dengan mengayuh sepeda.Tak pernah dapat raskin dari pemerintah?"Bagaimana saya bisa tahu. Wong saya pulang magrib berangkat subuh. Saya tidak tahu apa-apa. Jika tahu juga saya sanggup gak sanggup beli berasnya," ujarnya.
KORBAN GUSURAN
Kampung Sawah, tempat Rahmat dan anaknya tinggal, merupakan pemukiman padat penduduk yang tidak memiliki administrasi RT ataupun RW. Lahan yang ditempati katanya milik pengusaha Oki Arto Namun, belakangan dipecah jadi milik beberapa o-rang tapi masih diproses di BPN Pusat "Semua warga di sini korban gusuran dari mana saja . Salah satunya dariTPK Koja kemarin. Mereka pendatang dari berbagai daerah seperti Indramayu, Tegal, dan Bugis. Tapi, kebanyakan o-rang Sunda," kata Warno Ketua Blok B. Warga Kampung Sawah sebagian besar bermata pencaharian pemulung pengumpul barang bekas, (lina/ak/r)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar